Skip to content

Emotional Intelligence

Mei 9, 2010

Memasuki abad 21, legenda atau paradigma lama tentang anggapan bahwa IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan, yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan dan kesuksesan kinerja Sumber Daya Manusia, digugurkan oleh munculnya konsep atau paradigma kecerdasan lain yang ikut menentukan terhadap kesuksesan dan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Hasil survei statistik dan penelitian yang dilakukan Lohr, yang ditulis oleh Krugman dalam artikel “On The Road on Chairman Lou“ (The New York Times 26/6/1994), menyebutkan bahwa IQ ternyata sesungguhnya tidak cukup untuk menerangkan kesuksesan seseorang. Ketika skor IQ dikorelasikan dengan tingkat kinerja dalam karier mereka, taksiran tertinggi untuk besarnya peran selisih IQ terhadap kinerja hanyalah sekitar 25%, bahkan untuk analisis yang lebih seksama yang dilakukan American Psycological Press (1997) angka yang lebih tepat bahkan tidak lebih dari 10% atau bahkan hanya 4%. Hal ini berarti bahwa IQ paling sedikit tidak mampu 75%, atau bahkan 96% untuk menerangkan pengaruhnya terhadap kinerja atau keberhasilan seseorang. Serta menurut penelitian yang dilakukan Goleman menyebutkan pengaruh IQ hanyalah sebesar 20% saja, sedangkan 80% dipengaruhi oleh faktor lain termasuk di dalamnya EQ. Sehingga dengan kata lain IQ dapat dikatakan gagal dalam menerangkan atau berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang (Goleman, 2000).

Banyak penelitian yang membahas mengenai EI, namun yang paling popular diantaranya ada dua, yakni yang dikembangkan David Goleman dan Mayer-Salovey, sebagai berikut:

Model EI yang diperkenalkan oleh David Goleman menekankan pada empat kompetensi penting dalam EI, diantaranya:
1. Self-awareness, yakni kemampuan dalam membaca emosi sendiri dan memahami dampaknya terhadap orang lain.
2. Self-management, yakni kemampuan untuk mengontrol emosi serta beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
3. Social awareness, yakni kemampuan dalam memahami emosi orang lain, dan bagaimana dampaknya terhadap organisasi.
4. Relationship management, kemampuan untuk menginspirasi, mempengaruhi, mengembangkan orang lain, serta juga mengatasi konflik

Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.

Penelitian menunjukkan bahwa sebenarnya kondisi emosi mempengaruhi fungsi otak dan kecepatan kerjanya (Cryer dalam Kemper). Studi-studi lain mengatakan  bahwa seorang eksekutif atau profesional yang secara teknik unggul dan memiliki EQ yang tinggi adalah orang-orang yang mampu mengatasi konflik, melihat kesenjangan yang perlu dijembatani atau diisi, melihat hubungan yang tersembunyi yang menjanjikan peluang, berinteraksi, penuh pertimbangan untuk menghasilkan yang lebih berharga, lebih siap, lebih cekatan, dan lebih cepat dibanding orang lain.  Penelitian bahkan juga menunjukkan bahwa kemampuan intelektual Albert Einstein yang luar biasa itu mungkin berhubungan dengan  bagian otak yang mendukung fungsi psikologis, yang disebut amygdala. Meskipun demikian, EQ dan IQ berbeda dalam hal mempelajari dan mengembangkannya.

Berikut ini Inilah tips-tips sederhana yang bisa aplikasikan dalam pengembangan EQ :

1. Jagalah lidah Anda, karena ia lebih tajam daripada pedang. kecuali Anda meyakini dan memiliki bukti bahwa apa yang Anda katakan adalah benar. hal ini akan melatih kemampuan Anda untuk berkomunikasi yang efektif dan mendapatkan kepercayaan orang lain.

2. Jangan biarkan Anda terlalu lama berdiam tanpa aktivitas, galilah kreativitas Anda untuk mengisi waktu luang. pastikan apapun yang Anda lakukan mampu meningkatkan setiap potensi Anda. ini akan melatih otak Anda untuk mencari ide-ide dan tidak berlarut-larut dalam masa lalu. adalah sebuah kebodohan untuk memikirkan sesuatu yang telah berlalu

3. Motivasilah Orang-orang disekitar Anda. secara tidak langsung sebenarnya Anda telah memotivasi diri Anda sendiri. Kemampuan untuk menjadi peka untuk merasakan apa yang dirasakan orang-orang disekitar kita adalah EQ terbaik yang pernah dimiliki manusia, jangan hilangkan yang satu ini.

4. Carilah tempat terbaik untuk merefleksikan Emosi Anda . menyalurkan segala bentuk emosi dalam kegiatan yang positif .misalnya blogging, kegiatan organisasi, game dan jangan lupakan manageman waktu

5. Bersiaplah Untuk Segala Kemungkinan . salah satu hal yang pasti akan dialami oleh seluruh orang adalah ketidakpastian . Tertawakanlah setiap ketidakberuntungan Anda dan ubahlah menjadi kesempatan untuk pembelajaran.

Denagan melihat kualitas-kualitas yang ditunjukan dalam kecerdasan emotioanal, kita akan sepakat bahwa karakter-karakter seperti itulah yang diharapkan  oleh kita sebagai makhluk sosial dan dengan memiliki beberapa kualitas tersebut seorang anak atau orang dewasa akan dapat mengahdapi permasalahan-permasalahan hidup yang semakin kompleks dan berhubungan dengan orang lain.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: